Ragam

Badan Geologi Pasang 12 Patok Penanda (Land Subsidence) Di Kota Pekalongan

Kota Pekalongan Garudacitizen Jateng – Penurunan permukaan tanah (Land Subsidence) Kota Pekalongan merupakan salah satu masalah lintas generasi yang ditangani secara serius dan jangka panjang. Fenomena terjadinya penurunan tanah di pesisir Pantai Utara seperti di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Saat ini kian memprihatinkan dan membutuhkan penanganan serius dan optimal. Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, sepanjang 2020 lalu, penurunan tanah terjadi sekitar 6 cm per tahun. Hal itu berdasarkan hasil penyelidikan geologi terpadu di Pantura meliputi daerah Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, dan Demak. Dari sejumlah daerah di Pantura tersebut, Kota Pekalongan menjadi sorotan. Lantaran di Kota Batik tersebut mengalami penurunan tanah sehingga berdampak terhadap banjir rob.

Tahun 2021 ini, Pemkot Pekalongan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah akan menambah pemasangan 12 buah patok penanda penurunan muka tanah. Pemasangan ini tujuan untuk mengetahui persis berapa sebetulnya penurunan tanah di Kota Pekalongan. Patok-patok tersebut akan dipasang di 4 titik lokasi berbeda,dimana masing-masing wilayah ditempatkan 3 buah patok di 1 titik lokasi. 4 titik lokasi tersebut yakni di Kelurahan Panjang Baru dan Degayu untuk wilayah Kecamatan Pekalongan Utara. Kemudian di Kecamatan Pekalongan Timur tepatnya di Kelurahan Setono, dan Kecamatan Pekalongan Barat di Kelurahan Tirto.

“Saat ini masih memang masih dalam masa pemantauan dan penelitian dari berbagai pihak. Salah satunya dari Badan Geologi yang memasang patok di Stadion Hoegeng dan Kecamatan Pekalongan Selatan. Tahun 2021 ini juga mereka akan memasang patok-patok lainnya. Harapannya, semakin banyak alat digunakan untuk mendeteksi, nantinya akan semakin jelas titik tanah Kota Pekalongan, sebetulnya turunnya berapa sentimeter pertahunnya. Dan daerah yang sekiranya perlu mendapatkan perhatian khusus dengan laju penurunan tanahnya yang cepat.” tutur Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Ir. Anita Heru Kusumorini,MSc, Rabu (18/8/2021).

Anita menjelaskan, sebelumnya ada dua patok dipasang di Kota Pekalongan. Untuk menghitung penurunan tanah yang terjadi yakni yang terpasang di Stadion Hoegeng Kecamatan Pekalongan Barat. Yang menunjukkan penurunan muka tanah sekitar 0,5 sentimeter per bulan, sehingga setiap tahunnya 6 sentimeter. Sementara, untuk patok kedua sudah terpasang adalah di Kecamatan Pekalongan Selatan. Yang menunjukkan penurunan muka tanah relatif tidak terlalu cepat atau sekitar 0,2 sentimeter per bulan.

“Untuk penambahan patok penanda penurunan muka tanah dianggarkan dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sudah dalam tahap proses pengukuran seismik untuk segera dipasang. Kemudian, untuk titik tepat lokasi pemasangannya,kami masih melihat dari hasil geolistrik untuk mengetahui titiknya dimana,sampai kedalaman berapa, dan sebagainya. Saat ini yang sudah dilaksanakan proses pengukuran geolistrik untuk pemasangan patok penanda ada di Kelurahan Setono,”tandasnya. (HL/Dita)

Related posts

Seorang Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Area Pertambakan

Widodo

TNI – Polri Bersama Nakes, Intensifkan Tracing Kurangi Covid- 19

Hadi Lempe

Temukan PJU Padam Adukan ke Dinhub

Hadi Lempe

Rutan Batang Raih Penghargaan Wilayah Bebas Dari Korupsi

Hadi Lempe

DPUPR Bangun Tanggul Darurat Di Kelurahan Degayu

Hadi Lempe

Sukseskan POPM Filariasis, Dinkes Terjunkan Tim Kader TPE Filariasis Sweeping Door to Door

Hadi Lempe

Leave a Comment