16 Oktober 2025
GARUDACITIZEN JATENG | Kota Pekalongan – Penanganan Tuberkulosis (TBC) di tahun 2024 menunjukkan hasil positif. Hampir 95 persen pasien berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan. Namun, masih ada sekitar 5 persen pasien yang tidak dapat diselamatkan, sebagian besar berasal dari kelompok lanjut usia (lansia).
“Lansia yang kami temukan dalam kondisi berat umumnya memiliki penyakit penyerta. Situasi ini membuat pengobatan tidak bisa optimal sehingga akhirnya meninggal,” Disampaikan melalui pengelola program TB atau Wakil Supervisor (Wasor) setempat, Indayah Dewi Tunggal.
Lebih. lanjut dijelaska, pihaknya akan melakukan skrining kembali melalui kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) agar lansia bisa terdeteksi. Khususnya pada pasien Diabetes Melitus, semua yang mengidap kencing manis akan dilakukan skrining TBC, agar tidak ada lagi kasus meninggal karena TBC.
Di ungkapkan bahwa tingkat kesembuhan merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat khususnya penderita TBC memiliki kesadaran tinggi untuk menjalankan pengobatan, meskipun pengobatan TBC memerlukan waktu yang tidak singkat. Pengobatan TBC paling cepat dilakukan selama 6 bulan, namun jika paling lama sampai 9 bulan hingga 1 tahun, itu tergantung tingkat keparahannya.
Adapun obat yang disediakan pemerintah umumnya diberikan selama 6 bulan. Namun, bila kondisi pasien belum membaik, akan dirujuk ke dokter spesialis paru dan akan diberi tambahan pengobatan sekitar 3 bulan.
Ia menyebutkan tahun 2024 tercatat sekitar 1.200 kasus TBC. Dengan angka kesembuhan yang mencapai 95 persen serta upaya deteksi dini pada kelompok rentan, diharapkan penanganan TBC di tahun 2025 dapat semakin optimal dan menekan angka kematian.
Dinkes Kota Pekalongan berkomitmen untuk terus mengembangkan prgram ini secara optimal dalam menangani kasus penyakit Tuberkulosis. (HL/Sumber Dinkes Kota Pekalongan )
