pekalongan kota batik 2
Feature

Pekalongan Kota Batik yang Sesungguhnya

Jika paris disebut-sebut sebagai Kota Cahaya, maka Pekalongan Kota Batik!… Ya, kota yang berjarak 101 km sebelah barat Semarang, atau 384 km sebelah timur Jakarta, layak mendapat julukan itu.

Julukan kota batik, bukan Solo, bukan juga Yogyakarta. Walau pun keduanya juga terkenal memproduksi batik.

Pekalongan adalah salah satu kota pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Batang di timur, serta Kabupaten Pekalongan di sebelah selatan dan barat. Pekalongan terdiri atas 4 kecamatan. Yakni, Pekalongan Barat, Pekalongan Utara, Pekalongan Timur, dan Pekalongan Selatan.

Bagi anda yang biasa melalui jalur Pantura, salah satu jalur transportasi penghubung JakartaSemarangSurabaya, jelas melewati Kota Pekalongan. 

Apa yang membuat Pekalongan layak dijuluki sebagai Kota Batik? Pertama, usaha Batik, merupakan salah satu mata pencaharian pokok warganya. Jadi tidak heran, jika anda akan menjumpai banyak penjual batik di sana. Selain Pasar Setono sebagai pusat grosir batik, juga terdapat banyak gerai batik di sepanjang pusat pertokoan. Baik dalam bentuk kerajinan batik tulis tradisional, maupun tekstil.

Batik, telah mendarah daging bagi warganya. Mereka menggunakan batik dalam kehidupan sehari-hari. Jantung kehidupan kota Pekalongan adalah Batik. Industri Batik menggerakkan roda perekonomian lebih dari 1000 keluarga.

Industri batik ini sendiri, berjalan secara turun temurun. Jadi jika satu keluarga sudah menjalankan usaha batik, maka keturunan lainya pun akan bergerak dalam bidang yang sama.

Sementara, bagi mereka  yang tidak bergerak dalam industri batik, bertumbuh dalam usaha lain. Dimana sebagian besar mendukung industri batik itu sendiri. Seperti usaha kain, benang, jin, industry rumah tangga dan lain sebagainya.

Kondisi ini, mendorong warga Pekalongan bertumbuh dengan Entrepreneur atau pengusaha. Ada banyak gerai batik di sini. Bisa dimiliki perorangan maupun keluarga. Mereka menjual batik dalam berbagai jenis. Dimulai dari pakaian sehari-hari, baju tidur, bahan sutra, tas, sandal, kemeja, seprai, blus, rajutan dan lainnya. Harga batik di Pekalongan cukup bersaing di pasar global. 

Meseum Pekalongan Kota Batik 

Sejarah pekembangan industri batik di Pekalongan cukup panjang. Untuk anda yang ingin tahu lebih jauh tentang sejarah dan cara pembuatan batik, dapat berkunjung ke Museum Batik.  

Museum Batik didirikan pada tahun 1990. Sempat direnovasi pada tahun 1998. Dan, sekarang museum ini dibuka untuk umum. Ada banyak hal yang dapat dilihat terkait batik di museum ini. Seperti, berbagai macam koleksi batik. Baik batik jaman Belanda sampai batik kontemporer. Jika Anda tertarik belajar membatik, maka ada workshop yang dapat Anda ikuti disini.

Anda akan diberikan kain kecil untuk membatik. Dan kain tersebut, kemudian dapat dibawa pulang sebagai bukti dan kenang-kenangan Anda pernah membatik.

Icha Bilal,  warga Pekalongan, mengaku bangga dengan perkembangan batik di daerahnya. Sebagai warga asli Pekalongan, ia sangat berharap pengelolaan museum batik lebih terstruktur dan ditingkatkan.

“Sehingga dapat menjadi sebuah ikon wisata bagi daerah. Menasbihkan Pekalongan Kota Batik,” ujar Icha. 

Dalam mendukung industri batik di Pekalongan, lanjut Icha, Pemerintah, bersama Asosiasi Pengusaha Batik, dengan mengadakan Festival Batik setiap tahunnya.

Pada festival tersebut, para pengrajin batik memperlihatkan kreasi mereka kepada masyarakat. Berbagai jajanan juga menambah semaraknya acara tersebut.

Pada tahun 2007, Pekalongan pernah mengadakan Festival berskala internasional. Dimana bekerjasama dengan berbagai Negara tetangga. Acara bergengsi ini, dihadiri Wakil presiden Moh. Jusuf Kalla. Sekaligus meresmikan Kampoeng Batik.

Kampoeng Batik adalah sebuah gang berisi keluarga. Dimana mayoritas warganya adalah pengrajin batik. Ataumembuat batiknya langsung di rumah atau home industry.

Pekalongan Kota Batik dan Beragam Etnis


Munculnya pemukiman di kampung Sampangan merupakan awal perkembangan Pekalongan selanjutnya. Dulunya, Sungai Kupang merupakan pangkalan pelabuhan dagang antar pulau. Kawasan ini dikenal dengan nama “Pintoe Dalam” oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan selanjutnya dijadikan kawasan pemukiman khusus warga Tionghoa. Photo: Badan Promosi Pariwisata Kota Pekalongan

Kota Pekalongan, mayoritas penduduknya bersuku Jawa. Namun, juga terdapat berbagai etnis lain. Telah tumbuh dan hidup berdampingan dengan damai, sejak lama. Bahkan, kota batik Pekalongan juga terkenal “kota yang banyak Arabnya’.

Disini juga terdapat etnis China yang membuat Pecinan sendiri. Tinggal bersebelahan dengan wilayah yang ditinggali oleh etnis arab, yang biasa disebut dengan Kampung Arab. Sejauh ini, tidak pernah ada konflik berbau SARA. 

Warga keturunan China, cenderung memilih berdagang. Biasanya menjual barang-barang elektronik atau toko-toko kecil. Sedangkan etnis Arab menjual makanan dan jajanan khas Timur Tengah. Seperti cane, samosa, nasi kebuli dan makanan berbahan daging kambing. Sebagian dari mereka juga bergerak di industri batik.

Pekalongan Kota Batik Dan Kuliner Sego Megononya

Sego Megono 

Selain kota batik, Pekalongan dikenal memiliki beragam kuliner khas. Ya, jika anda berada di Pekalongan, maka jangan lupa untuk berwisata kuliner.

Ada banyak jenis panganan yang mengundang selera. Makanan khas Pekalongan sendiri namanya, Sego Megono (Nasi Megono). Dan tentunya, satu-satunya hanya dapat ditemukan di Pekalongan. Jadi jika Anda kesini, Anda harus mencarinya! Makanan ini mudah sekali dicari. Ada di seluruh pelosok Negeri Pekalongan.

Sego Megono atau Nasi Begono, memang unik. Sangat tradisional. Biasanya, dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Megononya sendiri dibuat dari nangka muda. Diracik dengan berbagai macam bumbu. Megono dimakan dengan gorengan. Seperti, tempe atau tahu, ayam, ikan dan sambal. Enak dengan cita rasa yang khas. 

Anda bisa menjumpai banyak penjual Sego Megono. Makanan ini, sangat fleksibel. Anda dapat mengkombinasinya dengan berbagai macam lauk lainnya. Tersedia sepanjang waktu.  Karena dijual dari pagi sampai malam. Lebih asik, saat malam, sepanjang jalan protokol, juga dijumpai warung lesehan. 

Masih ada banyak Makanan khas dan  unik lainnya di Pekalongan. Seperti, Soto Pekalongan atau Tauto, Pindang Tetel, Garang Asem, dan Sate Kebo. Banyak makanan Pekalongan terbuat dari daging. Jadi jika Anda tidak dapat mengkonsumsi daging, Anda dapat menikmati alternatif makanan lainnya. Seperti Kluban Bothok.

Setiap kota di Indonesia mempunyai sotonya masing-masing. Dan salah satunya, adalah Soto Pekalongan. Bahannya terbuat dari Tauco yang membuat warnanya menjadi hitam dan kemerah-merahan.

Garang Asem juga unik karena terbuat dari Kluwak. Garang Asemnya kurang lebih sama seperti Rawon tapi lebih segar. Makanan ini bisa berisi daging atau telur. Pindang Tetel sebenarnya hampir sama dengan Garang Asem, yang membedakannya adalah daging tetelan dan biasanya ditambah dengan krupuk usek warna-warni.

Pantai Selamaran

Wisata

Pantai Slamaran, Pantai Pasir kencana, Museum Batik, Kampoeng Batik, Gerai Batik, Pasar Grosir Setono

Akomodasi

Hotel Nirwana, Hotel Hayam Wuruk, Hotel Kartini, Losmen Teratai

Masduki: bertempat di Alun-Alun kota, menyediakan Garang Asem, Megono dan berbagai makanan lainnya

Jong Java Café: kafe kecil bergaya oldish, terletak di dekat Kuburan terbesar di Jl. Irian, menyediakan snack dan makanan berat. Yang paling terkenal adalah Nasi Bakar.

Sate kebo, Pindang Tetel dan Kluban Bathok : anda dapat menemukannya di bagian selatan kota.

Soto Pekalongan : dapat ditemukan dimana saja tapi rekomendasi Soto PPIP dan Soto Dalmuji di daerah krapyak dan di bagian selatan kota ada Soto Ojo Lali.

Related posts

Tawur Bubur, Ritual Unik Dari Jepara

Dedi Ariko

Hari Kartini, 13 Warga Binaan Ikuti Pelatihan Merapikan Tempat Tidur

Hadi Lempe

Memaknai Bela Negara, Kepala Kesbangpol Ajak Pentingnya Kesadaran Bela Negara.

Hadi Lempe

Uniknya Tradisi Dugderan di Semarang, Simbol Persatuan & Kerukunan Umat Beragama

Dedi Ariko

Yang Unik Dari Rembang, Tawuran Nasi

Dedi Ariko

7 Budaya Jawa Tengah yang Tak Lekang di Era Modern

Dedi Ariko

Leave a Comment