Press "Enter" to skip to content

Sejarah Tersembunyi Gunung Kidul Jawa Tengah

Gunung Kidul Jawa Tengah merupakan tempat wisata yang terkenal dengan pesona alamnya. Letak geografis Gunung Kidul, berdekatan dengan pantai laut selatan, perbukitan dan pegunungan. Disekitar Gunung Kidul terdapat beberapa wisata alam. Seperti pantai Baron dan Gunung Gentong. Gunung Kidul Jawa Tengah, kerap dikunjungi oleh wisatawan. Karena, letaknya tidak jauh dari pusat kota Yogyakarta.

Tinggi Gunung Kidul mencapai 650 mdpl. Bila Anda naik ke puncak gunung, Anda bisa melihat pesona keindahan alam yang luar biasa. Disekeliling gunung disuguhkan pemandangan persawahan, lembah hijau, dan dapat melihat dengan jelas wisata waduk Gajah Mungkur.

Ternyata Gunung Kidul tidak hanya digunakan sebagai tempat wisata, tetapi tempat ini juga digunakan untuk lokasi spiritual. Wisatawan yang datang tidak mengganggu acara spiritual karena tempatnya khusus dilakukan di Kecamatan Ngawen.

Dibalik keindahan wisata Gunung Kidul Jawa Tengah ada cerita sejarah yang tersembunyi. Cerita sejarah berhubungan dengan masa penjajahan Belanda. Pada masa tersebut, Belanda menindas masyarakat Yogyakarta.

Sejarah Gunung Kidul Jawa Tengah

Dahulu kala Gunung Kidul merupakan kawasan yang berupa hutan belantara. Pada tanggal 26 dan 31 maret 1831, Sultan Yogyakarta dan Pemerintah Hindia Belanda mengadakan kontrak pembagian wilayah administratif terbaru. Hasilnya kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi 3 kabupaten yaitu kabupaten Kalasan, kabupaten Bantulkarang, dan kabupaten Dengung. Gunung Kidul masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Kalasan.

Wilayah Kasultanan Yogyakarta yang baru sudah terbentuk. Saat itu juga diresmikan bahwa pusat pemerintahan kota Yogyakarta terletak di Gunung Kidul dan Wonosari. Pemerintahan Yogyakarta kemudian fokus mengatur kadipaten Gunung Kidul agar letaknya dekat dengan pusat kota. Solusinya yaitu memindahkan kadipaten ke Alas Nongko Doyong.

Pemindahan kadipaten atau kabupaten dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono V Yogyakarta. Beliau mengangkat Adipati Gunung Kidul yaitu Tumenggung Prawirosetiko. Tumenggung bertugas menggantikan KRTP Poncodirjo. Alasan Sultan Hamengkubuwono memilih Alas Nongko Doyong sebagai kabupaten terbaru karena memiliki tanah subur, sumber airnya banyak, dan lokasinya strategis.

Langkah awal pemindahan kabupaten yang diambil oleh Tumenggung Prawirosetiko yaitu mengundang demang, panji, ranupati sekadipaten, dan rangga untuk melakukan musyawarah. Hasil musyawarah disetujui oleh semua anggota, selanjutnya Tumenggung Prawirosetiko menunjuk Panji Harjodipuro untuk melaksanakan tugas mulia ini. Panji Harjodipuro tidak sendiri, karena ditemani oleh anak buah kepercayaan Ki Demang Wonopawiro yang pemberani dan gagah.

Wilayah Alas Nongko Doyong didominasi dengan hutan belantara. Wilayah tersebut terkenal angker dan memiliki penunggu. Oleh sebab itu Panji Harjodipuro harus hati-hati dalam melakukan pembabatan hutan. Sementara itu, Panji mengutus Mbok Nitisari yang seorang dukun sakti dan pintar untuk membatu tugasnya. Sebelum proses pembabatan hutan, Mbok Nitisari memberi perintah Demang Wonopawiro untuk membuat sesaji.

Mbok Nitisari dan Demang Wonopawiro menuju ke Alas Nongko Doyong untuk memberikan sesaji ke pengunggu terjahat disana. Penunggu tersebut dikenal sebagai jalma mara jalma mati angker Nyi Gadung Mlati sang penguasa kawasan Alas Nongko Doyong. Pertama Mbok Nitisari menyampaikan tujuannya datang ke Alas Nongko Doyong untuk membuka wilayahnya, tetapi Nyi Gadung Mlati tidak setuju dan akhirnya terjadi pertempuran.

Nyi Gadung Mlati tidak kuat dan kalah, sehingga mengizinkan Alas Nongko Doyong dibuka sebagai wilayah Kadipaten Gunung Kidul. Tidak semudah itu, Nyi Gadung Mlati memberikan persyaratan agar setiap tahun harus dibuat sesaji agar dirinya tetap hidup untuk menjaga Alas Nongko Doyong sampai kapanpun.

Proses pembabatan dihiasi dengan pertarungan memperebutkan cinta Roro Sudarmi yang merupakan anak Panji Harjodipuro. Banyak lelaki yang ingin melamar Roro Sudarmi. Sampai akhirnya Panji Harjodipuro membuat syaembara untuk dijodohkan kepada anaknya.

Pembabatan atau pembukaan hutan dilakukan sampai sukses meski adanya acara syaembara. Proses pembangunan bangsal-bangsal, pendopo, dan bangunan yang khusus ditempati oleh para pengreh praja juga telah berjalan. Pembangunan selesai, setelah itu Tumenggung Prawirosetiko memindahkan Kadipaten Gunung Kidul Jawa Tengah di kawasan Alas Nongko Doyong.

Fakta Tersembunyi di Gunung Kidul Jawa Tengah

Anda telah mengetahui tentang sejarah Gunung Kidul Jawa Tengah. Mulai dari pembagian wilayah pemerintah hingga pemindahan Kadipaten Gunung Kidul. Sekarang Anda harus mengetahui lebih dalam lagi mengenai fakta tersembunyi.

Beberapa fakta Gunung Kidul Jawa Tengah yang jarang diketahui oleh orang bisa dilihat berikut ini.

Kawasan Gunung Kidul dulunya di dasar laut

Siapapun pasti tidak percaya kalau kawasan Gunung Kidul merupakan lautan. Padahal waktu pertama kali dibentuk pemerintahan berupa hutan belantara. Percaya atau tidak hal itu telah dibuktikan oleh temuan fosil hewan purba laut di kawasan tersebut. Fosil yang ditemukan cukup banyak, sehingga mampu membuktikan bahwa Gunung Kidul dulunya kawasan laut itu adalah fakta. |
Berubahnya dasar laut menjadi daratan diakibatkan oleh pergeseran dan pengangkatan tektonik serta vulkani. Gerakan pengangkatan terjadi begitu hebat sehingga menimbulkan dasar laut tertarik ke atas.

Kabupaten Gunung Kidul pernah dihuni oleh Homo Sapiens

Manusia purba Homo Sapiens pernah menempati beberapa kawasan di Gunung Kidul. Salah satu kawasan tersebut yaitu di Ceruk Song Bentar. Bukti bahwa tempat tersebut dihuni oleh manusia purba Homo Sapiens, yaitu ditemukan fosil manusia purba 5 orang dewasa, 2 anak-anak dan 1 bayi.
Ditemukan juga peralatan yang terbuat dari batu berupa mata panah, giling, dan beliung persegi. Homo sapiens juga tinggal di beberapa goa, hutan, dan ceruk lainnya.

Memiliki pantai yang panjang

Kabupaten Gunung Kidul Jawa Tengah memiliki pantai yang luas dan panjang. Membentang sejauh 65 km, dari kecamatan Purwosari hingga kecamatan Girisubo. Area pantai di kawasan selatan. Pantai berbatasan langsung dengan samudera hindia. Sebutan terkenal pantai Gunung Kidul yaitu Pantai Selatan. Pantai ini terkenal mistis dan banyak digunakan untuk kegiatan spiritual.

Gunung Kidul Jawa Tengah Kaya sumber daya tambang

Kekayaan tambang Gunung Kidul Jawa Tengah masuk ke dalam golongan C. Adapun kekayaan tambangnya berupa batu apung, pasir kuarsa, tras, kaolin, batu kapur, zeolite dan kalsit. Hasil tambang menjadi salah satu pemasukan negara dan pemerintah Yogykarta.\

Memiliki pusaka

Raja Yogyakarta memberikan anugerah Pusaka Tombak Kyai Marga Salurung ke Kabupaten Gunung Kidul. Pusaka diberikan oleh Sultan Hamengkubuwono X pada perayaan hari jadi ke 170 Gunung Kidul tanggal 27 Mei 2001. Pusaka yang didapatkan tidak hanya satu, melainkan ada dua pusaka lainnya yaitu Songsong Kyai Robyong dan Tombak Kyai Panjolo Panjul.

Organisasi budaya

Yogyakarta sangat kental dengan budayanya. Kabuten Gunung Kidul Jawa Tengah memiliki organisasi budaya terbesar diantara kabupaten lainnya. Sekitar 1878 organisasi kesenian dan budaya siap melestarikan budaya Yogyakarta. Organisasi dibawahi oleh pelaku kesenian dan budaya yang jumlahnya mencapai 144 orang. Oleh karena itu organisasi budayanya berkembang dengan baik.

Itulah fakta menarik  kabupaten Gunung Kidul Jawa Tengah yang jarang diketahui oleh orang. Sebenarnya masih ada fakta menarik lainnya yang cukup membuat Anda takjub. Demikian sejarah beserta fakta menarik Gunung Kidul.

Baca juga: Misteri rambut gimbal di Dieng

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Web Development by GARUDA.WEBSITE.
Garuda Citizen Jateng adalah portal berita online dibawah badan hukum PT. Garuda Citizen. Memuat berbagai konten, seperti: berita politik, hukum, HAM, budaya, tradisi serta peristiwa menarik dan penting.