Suku Kalang, Manusia Mistik Berekor Kecil di Tanah Jawa
Feature Sejarah Sosial Budaya

Suku Kalang, Manusia Mistik Berekor Kecil di Tanah Jawa

Berbicara tentang suku di Pulau Jawa, tidak lepas dari beberapa suku besar dan sudah dikenal umum. Seperti; Suku Sunda, Jawa, Madura, dan Betawi. Padahal, ada begitu banyak suku-suku di tanah jawa. Namun, tidak tercatat dalam buku sejarah di sekolahan. Salah satunya, Suku Kalang.

Suku Kalang, merupakan suku yang cukup fenomenal. Diyakini sebagai salah satu Suku asli orang Jawa. Hidup ribuan tahun silam.

Menurut cerita, pada zamannya, dahulu kala, pernah hidup suku bangsa kecil. Bernama suku Kalang. Kebanyakan orang, menyebutnya dengan julukan Wong Kalang. Suku ini hidup di hutan-hutan. Akhirnya, hilang seiring dengan berkembangnya waktu.

Bagi orang Jawa, suku Kalang sebenarnya cukup banyak diceritakan. Mereka, disebut memiliki ekor kecil. Dianggap suku yang aneh dan misterius. Namun, mempunyai kemampuan daya linuwih. Diatas rata-rata suku lain. Suku Kalang dikenal, ulet, rajin dan memiliki kekayaan berlimpah.

Eksistensi Suku kalang, mengalami pasang surut. Sejak jaman Belanda dan raja-raja di Jawa. Diduga anak turunanya sekarang berada di Kotagede, Jogjakarta.

Suku Kalang dan Kotagede

Suku Kalang, memiliki kultur kebudayaan berbeda. Dari masyarakat Jawa, umumnya. Walau, dari dari warna kulit, cara berpakaian, dan bahasa, memilik kemiripan dengan etnis Jawa. Namun tetap terdapat perbedaan yang signifikan. Kendati, keduanya sudah melalui proses berabad-abad. Hidup berdampingan. Bisa disebut, Suka Kalang, merupakan subetnis Jawa. Setimbang etnis tersendiri. Jika dianggap berlebihan, tepat disebut (fenomena), subkultur Jawa.

1988, Claude Guillot berpendapat, ada empat hal pokok. Pembeda Suku Kalang dengan Suka Jawa. Ini cukup signifikan. Pertama, berbeda dengan etnis Badui. Dimana, label “Badui” -nya, disematkan pihak orang luar. Sementara, pada Suku Kalang, atribut ‘Kalang”, diklaim oleh mereka sendiri.

Ini berarti, nama; “Kalang” merupakan kontruksi identitas. Eksistengsinya, dibangun oleh kelompok Wong Kalang, itu sendiri. Kontruksinya, ke-liyan-an bukan ditentukan oleh Wong Jawa.

Kedua, sistem perkawinan. Sifatnya, cenderung endogami. Yaitu, mereka memilih tidak akan menikah, dengan orang selain sukunya. Jikat melanggar, maka dianggap, bukan Kalang sejati.

Dari catatan Mitsuo Nakamura, 1983, mayoritas perkawinan Suku Kalang, terjadi dengan para keponakan. Malah, bisa pada garis pertama. Tidak hanya itu, para suku Kalang, sering terjadi saling tukar partner pernikahan. Diantara suku Kalang lain.

Ketiga, soal profesi. Mayoritas Suku Kalang merupakan pedagang. Sebagian bertukang. Bukan petani. Seperti profesi umum masyarakat suku Jawa. Dimana kemudian terlihat, budaya Suku Kalang, walau pun minoritas, dan dianggap minor dari budaya suku Jawa, justru berada diposisi superior. Setidaknya, dalam catatan sejarah di Kotagede. Ini menunjukkan, adanya, keberhasilan capaian ekonomi mereka.

Baca juga: Pekalongan Kota Batik Sesungguhnya

Keempat, tentang budaya. Dimana, pada Suku Kalang, cenderung kaku. Sangat mempertahankan keasliannya. Yakni, ritus-ritus pra-Islam. Beda, dengan budaya Jawa. Yang berkembang dengan asimilasi berbagai ritus.

Namun, Wong Kalang, jika, ditanya perihal agama, mereka mengaku Islam. Tapi, suku Kalang masih memiliki, ritual pemakaman obong kalang, misalnya. Yang notabene, sudah tidak populer pada tradisi Jawa.

Ritus obong kalang di Suku Kalang

Menariknya, pada upacara obong kalang, kelompok ini, tidak membakar jasad orang yang meninggal. Seperti upacara ngaben. Di Bali. Melainkan, membakar boneka “puspa gambar”. Sebuah boneka terbuat dari kayu. Biasanya, boneka itu didandani. Pakai baju, yang biasa dikenakan orang semasa hidupnya. Sementara jasadnya, tetap dikubur. Seperti, biasanya. Sementara, jadwal ritual obong kalang, menyerupai sistem kalender budaya Hindu Bali. Bukan sistem kalender budaya Jawa.

Mitologi Suku Kalang Berekor Kecil

Ada begitu banyak tafsiran mitologis. Termasuk ditengah peradaban masyarakat Jawa. Sikapnya, seperti biasa. Cenderung mendua. Disatu sisi, menunjukkan kekaguman. Sementara, disisi lain merendahkan .

Ditengah masyarakat Kotagede, di Yogyakarta, misalnya. Berkembang folklore. Yang nuansanya, mirip dongeng. Dalam cerita rakyat (saat ini bisa disebut viral), menyebutkan Wong Kalang memiliki ekor.

Dari catatan etnografis, milik Mitsuo Nakamura, 1983. Adanya legenda lokal. Masyarakat Kotagede. Menyebutkan, bahwa; Wong Kalang merupakan tawanan perang. Dibawa Sultan Agung, pasca ekspedisinya ke Bali . Yang gagal, pada awal abad 17-an. Suku Kalang disebut-sebut keturunan manusia dan kera. Maka, terbetiklah cerita, konon Wong Kalang berekor.

Dicatatan, Claude Guillot, juga menulis dongeng Jawa. Menceritakan, asal-asul Wong Kalang. Suku Kalang, disebut orang yang malang. Tinggal tidak menetap. Alias nomaden. Hidup dan tumbuh disekitar pinggiran hutan. Setara kelas pariah. Atau kasta rendah. Dan, lebih dari itu, mirip legenda lokal di Kotagede. Yang dicatat Mitsuo Nakamura. Suku Kalang , juga diceritakan mendapat kutukan Tuhan. Karena melakukan kawin sumbang. Antara seorang wanita (manusia) dengan spesies berbeda. Seekor anjing.

Ini dongeng. Isapan jempol belaka. Adalah mustahil species manusia dapat beranak pinak dengan species binatang. Hanya mitos saja. Namun, dibalik itu semua, tercermin pandangan negatif. Suku Jawa terhadap Suku Kalang.

Mosaik Catatan Sejarah Suku Kalang

Menurut catatan sejarah, dari artikel Claude Guillot. Catatan pertama, tentang suku Kalang, ditemukan tertulis. Dalam prasasti. Dari tahun 804 s.d. 943 M. Salah satunya, berupa ketentuan kawasan bebas pajak (sima). Atau, ketua kelompok (Tuha Kalang). Dari prasasti itu, Zoetmulder, menafsirkan, bahwa Suku Kalang terdiri dari golongan berprofesi sebagai tukang.

Nama Suku Kalang juga ditemukan dalam Prasasti Tambang. Tahun 1358. Yakni, pada era Majapahit. Raja Hayam Wuruk. Isinya, terkait profesi jasa transportasi. Di kalangan Suku Kalang.

Catatan tentang suku Kalang, muncul lagi di abad ke-17. Yaitu, ketika Sultan Agung, mengeluarkan kebijakan. Di Mataram. Yang membuat suku Kalang, meninggalkan kebiasaan hidup berpindah. Nomaden. Sehingga, tinggal menetap pada 1636.

Sedangkan, catatan Belanda, muncul pertama pada 1675. Isinya, menceritakan keberadaan suku Kalang di wilayah Rembang dan Pati. Berprofesi sebagai penebang pohon. Dibuku Speelman 1678, menulis diskripsi lebih jela. Suku Kalang bekerja menebang dan mengangkut kayu; membuat gorab dan kapal perang.

Masih menurut catatan Hindia Belanda, diketahui, suku Kalang bekerja mengangkut barang-barang. Milik tentara Hurdt. Yang pergi berperang. Menyerang Trunajaya di Kediri, pada kisaran 1679. Setelah Belanda, menguasai pesisir Jawa 1743, tiga tahun setelah itu, VOC mengakui status khas suku Kalang. Sebagai een apart volk (kelompok tersendiri).

Implikasinya, tidak seperti suku Jawa umumnya. Suku Kalang, dikenakan pajak badan. Oleh pemerintah Belanda. Dimana sebelumnya, mereka dibebankan oleh Raja Jawa. Karena, posisi suku Kalang dianggap sebagai orang asing.

Kemudian zaman Daendels berkuasa. Kewajiban pajak dihapuskan. Selanjutnya, Daendels yang dikenal memiliki jasa membangun jalan darat Anyer – Panurakan, memberikan hak pada suku Kalang. Untuk menebang pohon. Sebagai bahan baku pembuatan gerobak Jawa. Yaitu, cikar dan pedati.

Selain itu, Winter SR 1839 juga mencatat. Juga menyebutkan bahwa, suku kalang hidup nomaden. Namun, sejak abad ke 17 dan 18, kebiasaaan tersebut berangsur-angsur menghilang. Suku Kalang mulai hidup menetap. Kecendrungan lainya, suku Kalang suka tinggal berkelompok. Dalam satu kampung. Atau, bermukim dalam wilayah yang saling berdekatan. Kampung atau wilayah suku Kalang, disebut Pekalangan.

Yang menarik dalam catatan sejarah suku Kalang, ada banyak. Diantaranya, soal etos kewiraswastaan (enterprenuer). Mirip, etnis minoritas Tionghoa dan Arab. Yang tinggal di kepulauan jawab. Yang memilih berprofesi petani tetap ada. Tapi, sangat jarang. Alih-alaih menjadi abdi-dalem Raja. Atau memilih status pangreh praja. Suku Kalang tidak begitu!…

Reputasi prestisius Suku Kalang dalam profesi di Kotagede

Sebelum memasuki abad ke20. Awalnya, di Kotagede terdapat 2 sub-kelompok suku Kalang, tinggal di wilayah Tegalgendu.

Pertama, sub-kelompok suku Kalang yang tinggal di daerah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Disini, suku Kalang bekerja sebagai spesialis ketrampilan pengolah kayu. Mereka membuat berbagai produk terbuat dari kayu. Merehab bangunan2 di kompleks Makam Raja, hingga rumah2 bangsawan disekitarnya, adalah bagian dari pekerjaan Suku Kalang.

Kedua, sub-kelompok Suku Kalang yang bermukim di wilayah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Disini, mayoritas profesi suku kalang penyedia jasa transportasi, tradisional. Mulai dari piranti jenis, kuda, sapi, sampai kendaraan bermotor. Suku Kalang, juga terkenal sebagai orang pribumi, pertama, yang membeli kenderaan mewah. Tenaga mesin. Seperi, mobil. Saat produk tersebut di datangkan ke pulau Jawa.

Bisnis suku Kalang semakin melejit. Saat, pihak kraton Yogyakarta, memberi kesempatan monopoli. Pada kelompok ini. Khususnya, soal jasa transportasi barang. Antara pelabuhan; Semarang di pantai utara ke Yogyakarta.

Perkembangan eknonomi suku Kalang semakin membesar. Diiringi, sub-kelompok Surakarta yang memperoleh lisensi dari kraton Surakarta. Dalam usaha rumah gadai, di seluruh wilayah. Alhasil, dalam tempo waktu singkat, kelompok Kalang berhasil mengembangkan jaringannya. Dimana, rumah gadai memberi keuntungan besar.

Catatan Claude Guillot menyatakan, pekerjaan suku Kalang lainnya adalah pedagang. Berprofesi sebagai pedagang, bukan menjadi monopoli para lelaki. Tapi, juga para perempuan. Contohnya, keluarga Mulyosuwarno. Istrinya Fatimah.

Claude Guillot menyebutkan, keluarga Kalang, bukan hanya berjualan kebutuhan harian. Seperti sembako. Namun lebih luas lagi. Seperti usaha penjualan, kain batik, emas dan berlian.

Sementara Kotagede, sebagaimana diungkapkan Van Mook, 1926, merupakan sentral pasar berlian terbesar. Di Hindia Belanda. Dan itu, dikuasai keluarga suku Kalang. Hasilnya dapat diterka, pasangan Mulyosuwarno dan Fatimah. Menjadi sangat kaya. Berstatus sosial tinggi.

Keturunan pertamanya, Prawirosuwarno, lahir 1873. Pada kisaran abad ke19, masih tergolong remaja. Namun, ceritanya, biasa keluar-masuk istana Yogya. Secara bebas. Akrab, sekaligus dapat bermain-main dengan pangeran. Dimana dikemudian hari, sang pangeran dinobatkan sebagai Sultan Hamengkubuwono ke-VIII.

Mitsuo Nakamura mengatakan, bahwa besaran kekayaan keluarga suku Kalang, sampai saat ini dapat terlihat dengan mudah. Di Kotagede, tersebar lusinan rumah besar. Milik Suku Kalang. Mirip istana. Dibangun sekitar dasawarsa abad ke20. Salah satunya, gedung di bagian timur Sungai Gajah Wong. Sebuah bangunan dengan 2 garasi. Yang dapat menampung delapan unit mobil. Dan kandang kuda yang diperkirakan memuat 20 ekor.

Menariknya, Mitsuo Nakamura menyebutkan, tentang hikayat lokal Kotagede. Bahwa; Perang Dunia ke I, keluarga suku Kalang, malah mendapat keuntungan besar melalui bisnisnya. Keluarga Kalang, waktu itu, berencana menutup lantai ruangan pendapanya, dengan uang koin. Terbuat dari perak. Entah apa maksudnya. Mungkin karena kelebihan duit.

Namun, jika rencana tersebut berjalan mulus, dimana seluruh ruang pendapanya dihiasi lapisan koin perak, secara otomatis, wajah Ratu Wilhelmina yang gambarnya berada di uang tersebut akan terinjak-injak kaum pribumi.

Mendengar hal ini, residen Belanda di Yogyakarta, jadi jengkel. Namun merasa tidak ada alasan yuridis. Untuk melarang. Untuk menghalangi niat tersebut, pihak residen menyusun siasat. Memberi saran, uang perak dipasang tegak. Bukan mendatar.

Kendati, keluarga Kalang superkaya, namun tidak memiki cukup banyak uang koin untuk memenuhi saran keresidenan tesebut. Dikabarkan, rencana nyeleneh tersebut batal.

Stigma negatif Suku Kalang

Apa yang kemudian membuat stigma negatif melekat di suku Kalang? Khususnya di tengah suku Jawa?

Ternyata, berawal dari sikap negatif suku Kalang itu sendiri. Selain gandrung berlebihan pamer kekayaan, wong Kalang terkenal hemat. Jika tidak mau disebut kikir. Dikalangan orang Kalang, uang tidak diperuntukkan dalam pendidikan. Mereka berpikir, itu akan memberi keuntungan “Wong Londo”.

Uang mereka, tidak juga untuk membayar zakat (Islam). Tidak pula ada peruntukan menyumbang untuk pagelaran kebudayaan. Seperti wayang atau gamelan Jawa.

Disisi lain, suku Kalang agak menghindari terlibat dalam kancah perpolitikan. Diperkuat dengan sistem pernikahan endogami. Maka, suku Kalang hidup dalam dunia sendiri. Ekslusif!… Dan orientasinya hanya uang.

Dalam kesimpulan Mitsuo Nakamura, Suku Kalang termasuk kasus ektrim. Dalam tradisi abangan, Kotagede. Mungkin Mitsuo agak gegabah, mempresentasikan suku Kalang sebagai kaum abangan. Ini menurut Clifford Geertz.

Namun dibalik itu semua, ada hal lain yang dapat di petik dari suku Kalang. Setidaknya, soal spirit kapitalisme. Yang tumbuh di jiwa pribumi Indonesia. Mirip dalil Max Weber, soal spirit kapitalisme. Yang ada dalam kehidupan sosial Protestan Eropa.

Sumber: Boleh Merokok
Editor: Admin GC

Related posts

Santri Pekalongan Gelar Doa Bersama dan Sholat Ghaib untuk Korban Terorisme Selandia Baru

Hadi Lempe

20 Pasang Calon Pengantin Ikuti Nikah Maulid

Hadi Lempe

Menggebrak Dunia, Inilah Keunggulan Batik Pekalongan yang Harus Anda Ketahui

Dedi Ariko

Demi Air Bersih, Warga Paninggaran Jalan Kaki 1,3 kilometer

Widodo

Wakil Walikota Pekalongan Serahkan Beasiswa Pendidikan

Widodo

Pawai Pajang Jimat 2018 Berlangsung Meriah

Hadi Lempe

Leave a Comment