Uniknya Tradisi Dugderan di Semarang, Simbol Persatuan & Kerukunan Umat Beragama
Feature Sosial Budaya

Uniknya Tradisi Dugderan di Semarang, Simbol Persatuan & Kerukunan Umat Beragama

Tradisi tahunan di setiap daerah beragam jenisnya. Terdapat tradisi unik yang diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah. Yaitu tradisi Dugderan. Tradisi ini adalah tradisi tahunan umat Islam. Dilaksanakan warga setempat. Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

Tradisi ini dikemas dalam bentuk festival berkonsep pesta rakyat. Yang diisi dengan pasar rakyat, karnaval, hingga ritual khas Jawa. Puncaknya tabuh beduk. Festival ini biasanya dilakukan seminggu hingga dua minggu, sebelum bulan Ramadhan.

Karnaval Arak-arakan Kesenian

Photo: Pegipegi

Karnaval akan diadakan sehari sebelum Ramadhan. Karnaval dalam perayaan Dugderan dibagi dalam dua waktu. Pertama adalah karnaval budaya. Yang diikuti oleh pelajar dari TK, SD, MI, SMP, dan MTs. Berlangsung pagi hari. Yaitu dari pukul 06.00 hingga 11.00.

Kemudian karnaval yang kedua adalah karnaval budaya. Dilakukan pada sore hari. Oleh perwakilan berbagai instansi di Semarang.

Karnaval budaya yang kedua diikiuti oleh berbagai kesenian khas Semarang. Setiap warga yang mengikuti karnaval memakai pakaian adat yang beragam. Biasanya, dihibur pula dengan pula marching band, dan meriam. Salah satu ikon tradisi Dugderan yaitu Warak Ngendok.

Warak Ngendok memiliki bentuk yang unik. Yaitu, merupakan perpaduan tiga hewan. Berkepala naga, bertubuh mirip unta, dan kaki menyerupai bentuk kaki kambing. Bentuk itu merupakan lambang kerukunan umat bergama di Semarang.

Warak Ngendog bersama peserta karnaval akan diarak mengelilingi kota Semarang. Sebelumnya, titik kumpul pertama peserta karnaval adalah halaman Balai Kota Semarang.

Semua peserta berkumpul di halaman Balai Kota untuk pembukaan. Karnaval akan dibuka oleh Wali Kota Semarang. Dengan ditandai pemukulan beduk. Untuk melepas para peserta. Arak-arakan akan berlangsung dengan mengelilingi kota Semarang. Lalu menuju Masjid Agung Kauman Semarang.

Dugderan sebagai Tanda Awal Ramadhan

Tradisi Dugderan memukul beduk. Photo: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi 25/5/2017 – Asset Kompas

Peserta arak-arakan berhenti di Masjid Agung Kauman. Menunggu hasil halaqah para ulama. Para ulama melakukan rukyatul hilal untuk menetapkan dimulainya awal Ramadhan. Pembacaan hasil suhuf halaqah merupakan pertanda awal ramadhan, yang kemudian ditandai dengan suara bedug dan meriam. Suara bedug sebanyak 17 kali kemudian diikuti dengan suara dentuman meriam sebanyak tujuh kali. Perpaduan suara itulah yang membuat tradisi ini disebut Dugderan.

Tradisi Dugderan belum berhenti disini. Selain membunyikan bedug dan meriam, peserta juga membagikan kue khas Semarang. Yaitu kue ganjel rel dan air khataman Al Quran. Rombongan peserta karnaval akan melanjutkan arak-arakan menuju Masjid Agung Jawa Tengah.

Di Masjid Agung Jawa Tengah dilakukan prosesi penyerahan suhuf halaqah kepada Gubernur Jawa Tengah. Kemudian diakhiri pula dengan suara bedug dan meriam yang meriah.

Memaknai Tradisi Dugderan

Setiap tradisi pasti memiliki pesan-pesan tersembunyi dari sebuah perayaan. Sebuah tradisi akan bermakna, bila orang-orang yang melestarikannya menjalani dengan penuh suka cita dan dengan tujuan yang postif. Memaknai sebuah tradisi juga dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

Dugderan bukan hanya pesta rakyat semata. Melainkan penuh dengan makna yang terkandung didalamnya. Dari makna persatuan hingga mengajarkan pendidikan.

Tradisi ini diselenggarakan dengan tujuan yang mulia. Yaitu menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita. Bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Bagi umat Islam.

Dalam perayaan Dugderan juga ditandai dengan simbol persatuan yaitu Warak Ngendog. Simbol dari keberagaman agama di Semarang yang disatukan oleh pesta rakyat. Suka cita dirasakan oleh semua warga tanpa membeda-bedakan. Selain itu, dalam sisi pendidikan dugderan dapat menjadi sarana untuk mengenalkan ibadah puasa kepada anak-anak.

Harapannya, Tradisi Dugderan ini dapat terus diselenggarakan dan dilestarikan.

Baca juga: Misteri bocah rambut gimbal di Dieng

Related posts

Sego Megono, Makanan Khas Pekalongan & Sejarahnya

Dedi Ariko

Habak PAS ke-55, Warga Binaan Rutan Bersihkan Tempat Ibadah

Hadi Lempe

Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci Pahlawan Bangsa

Widodo

Hadiri Musrenbangwil, Ganjar Terus Dorong Potensi Daerah

Hadi Lempe

Gelar Budaya, Bawaslu Sosialisasi Persiapan Pilkada Kota Pekalongan

Widodo

Dindik Cari Bibit Terbaik dalam FLS2N

Widodo