Kerajinan Gerabah Desa Tegowanuh, Miliki Potensi Bisnis Menjanjikan
Sosial Budaya

Kerajinan Gerabah Desa Tegowanuh, Miliki Potensi Bisnis Menjanjikan

Kabupaten Temanggung, GarudaJatengDesa Tegowanuh Kecamatan Kaloran, kabupaten Temanggung. Merupakan sentra penghasil gerabah tanah. Memiliki Potensi bisnis yang cukup menjanjikan. Kondisi perekonomian di daerah tersebut semakin hari kian meningkat, kesejahteraan masyarakat setempat juga turut terangkat.

Kabupaten Temanggung sejak dahulu terkenal dengan produk gerabah tanahnya. Deposit tanah liat sebagai bahan baku utama cukup tersedia di daerah setempat dan sekitarnya.

Warsito, warga setempat. Adalah salah satu pengrajin yang menekuni kerajinan gerabah selama puluhan tahun yang masih bertahan.

Warsito, Pengrajin gerabah tanah. Desa Tegowanuh, kecamatan Kaloran, kabupaten Temanggung

Pembuatan gerabah masih menggunakan alat sederhana dan terbilang kuno. Alat ini dinamakan putaran, yang fungsinya untuk alat produksi dengan cara diputar ketika jenis produk dibentuk.

“Alat ini merupakan peninggalan turun temurun dari orang tua, tapi sudah saya perbaiki lagi,” ujar Warsito, saat ditemui GarudaJateng di rumahnya. Kamis (17/10/2019).

Gerabah yang terbuat dari tanah liat tersebut, dibuat dengan berbagai macam bentuk yang menarik dan unik. Diantaranya vas bunga, pot bunga, kwali, souvenir, blengker, celengan, guci, binatang, dan lain sebagainya.

Meskipun menggunakan alat tradisional, dalam sehari minimal pengrajin gerabah mampu menghasilan sedikitnya 100 biji gerabah untuk ukuran kecil hingga tanggung.

Selama sebulan, rata-rata setiap pengrajin bisa membuat kurang lebih 4000 biji untuk ukuran tersebut. Baik gerabah yang sudah di finishing maupun yang belum. Karena ada juga permintaan untuk yang masih belum di finishing.

Bentuk hewan, adalah satu hasil karya kerajinan gerabah yang digemari pembeli

“Saat ini bentuk hewan sangat digemari pembeli. Dijual dengan harga Rp. 80.000 perbiji. Meski masih terbatas pengerjaan, dalam sehari hanya mampu membuat 2 biji,” ujar Warsito.

Musim kemarau saat ini sangat mendukung proses pengeringan gerabah mentah. Dalam waktu 3 hari sudah kering dan siap dilakukan pembakaran sehingga kualitas menjadi bagus. (Arintoko)

Related posts

Bakti TNI, Kodim Pekalongan Kerja Bakti Bangun Mushola

Widodo

Komunitas Sapulidi : Kita Sikat Habis Eceng Gondok Kali Bremi!

Widodo

Forum Anak Sebagai Pelapor dan Pelopor

Widodo

Tradisi Unik Jawa Tengah, Mulai upacara adat, kehidupan setiap hari, dan perayaan

Dedi Ariko

Patut Bangga, Inilah 4 Kebudayaan Jawa yang Diakui UNESCO

Dedi Ariko

Ngrumat Kali Kupang, Bentuk Keprihatinan dan Kepedulian Kondisi Sungai

Widodo

Leave a Comment