Press "Enter" to skip to content

Yang Unik Dari Rembang, Tawuran Nasi

Mendengar kata tawuran pasti yang terbayang di benak kita adalah perkelahian. Atau kekerasan yang mengerikan. Dan berujung tindak kriminal. Biasanya dilakukan secara, berkelompok oleh remaja.

Tetapi beda di Rembang. Salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Tawuran di Rembang, ternyata merupakan sebuah acara tradisi. Tawurnya pun bukan manusia. Melainkan nasi atau sego dalam bahasa Jawa. Tawuran atau perang nasi ini sudah menjadi tradisi turun temurun di Rembang. Aktivitas tradisi tawur nasi merupakan ekspresi rasa syukur warga. Akan melimpahnya hasil panen. Biasanya acara dilaksanakan di sekitar arra makam tokoh yang dikeramatkan di desa. Tradisi tawuran nasi dilakukan usai panen Raya.

Tawuran nasi dilaksanakan di dekat punden yang berupa gundukan atau makam keramat tokoh setempat. Untuk mengawali ritual, warga berduyun-duyun datang ke tempat diselenggarakan ritual. Dengan masing-masing membawa nasi berikut uborampe atau lauk dan pauknya.

Tawuran Nasi di Rembang

Sajian nasi yang dibawa akan digunakan untuk perang nasi. Nasi dan makanan yang dibawa harus sudah dibungkus dengan daun pisang atau daun jati. Lauk yang menyertai pada umumnya tahu, tempe dan ikan. Makanan tersebut merepresentasikan rezeki yang sudah diberikan oleh Tuhan. Dalam bentuk makanan. Ukuran dan jumlah nasi serta lauk pauk tidak ditentukan. Dan tidak pula dibatasi. Tetapi pada umumnya warga akan membawa ala kadarnya. Sesuai dengan ukuran makan.

Setelah warga terkumpul di titik temu acara,  warga melakukan ritual sedekah bumi. Semua warga yang sudah membawa hidangan, wajib mengumpulkan makanan untuk dijadikan gunungan.

Adapun gunungan yang harus, dibentuk adalah sebanyak 7 buah gunungan. Setelah panganan dibentuk menjadi 7 gunungan maka selanjutnya, masyarakat berkeliling mengitari gunungan. Lalu bersama-sama berdoa kepada Tuhan.

Semua warga yang hadir wajib berdoa. Adapun isi doa adalah untuk memohon kelancaran rezeki dan berkah di kemudian hari.

Usai sedekah bumi atau ritual doa bersama dilaksanakan,  warga melanjutkan dengan upacara perang atau tawuran nasi. Tawuran dilakukan dengan saling lempar nasi oleh seluruh warga baik pria, wanita, tua maupun muda dan bahkan anak-anak. Ritual harus dilakukan secara gembira dan sama sekali tidak mengandung unsur kekerasan.

Warga saling lempar nasi yang sudah dibungkus ke segala arah. Semua punya potensi terkena lemparan dan bukan menjadi sebuah hal yang menyakitkan. Semua dilakukan penuh rasa syukur.

Yang sangat unik adalah tawa ceria warga. Bahkan yang sudah belepotan nasi dan lauk pauk. Disarankan untuk lauk pauk yang tidak menyakiti. Tulang yang dikhawatirkan bisa melukai tubuh dihindari untuk disertakan di dalam lauk. Demikian juga sambal dan lauk atau uborampe yang bisa menyakiti diharapkan tidak disertakan.

Warga sangat percaya bahwa ritual tawuran nasi ini wajib dilaksanakan setiap tahunnya. Pernah sekali, warga tidak melakukan ritual tersebut. Dan entah kebetulan atau tidak, terjadi bencana gagal panen di wilayah tersebut. Dan akhirnya warga memutuskan untuk selalu mengadakan ritual tawuran nasi secara rutin.

Ritual dianggap selesai jika nasi yang digunakan untuk melempar sudah habis. Adapun nasi yang tercecer di atas tanah dipungut oleh warga untuk dikumpulkan menjadi makanan bagi ternak mereka. Sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.

Usai acara lempar melempar nasi, warga menggelar pertunjukan ketoprak sehingga upacara menjadi semakin meriah.

Di era modern yang serba canggih ini, ternyata masyarakat masih terus mempertahankan tradisi. Para warga yang melakukan upacara perang nasi pun tak sedikit yang tampak sudah menenteng gadget canggih namun mereka tetap mempertahankan adat dan tradisi leluhurnya.

Dokumentasi photo: Ini Baru

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Web Development by GARUDA.WEBSITE
Garuda Citizen Jateng adalah portal berita online dibawah badan hukum PT. Garuda Citizen. Memuat berbagai konten, seperti: berita politik, hukum, HAM, budaya, tradisi serta peristiwa menarik dan penting.